Oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA. Pada Monday, 21 December 2009 16:12 Dibaca Sebanyak 304
Kosakata al-Sakinah sudah demikian akrab di telinga ummat Islam. Kosakata tersebut biasanya diartikan keadaan hidup yang damai (peace), aman dan tenteram. al-Sakinah sering menjadi dambaan bagi setiap orang yang baru mulai memasuki kehidupan rumah tangga, dengan mengacu pada ayat yang artinya: Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, ia menciptakan untuk kamu sekalian pasangan, agar kamu damai, aman dan tenteram kepadanya, dan Dia jadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir. (Q.S. al-Rum, 30:21)
Al-Sakinah dalam ayat tersebut terjadi karena adanya pasangan (ajwaz) hidup yang dapat diartikan adanya keharmonisan, sinergi dan kerjasama yang baik antara suami isteri. Dalam surat Yasin ayat 36 yang artinya: ”Mahasuci Zat (Allah) yang telah menjadikan segala sesuatu berpasangan, dari yang terbit di bumi, dari diri mereka, dan dari segala sesuatu yang belum mereka ketahui.” Dengan ayat ini, sesungguhnya keharmonisan, sinergi dan kerjasama tidak hanya diperlukan dalam kehidupan rumah tangga, melainkan dalam seluruh aspek kehidupan. Keharmonisan, sinergi dan kerjasama diperlukan antara guru dan murid, dokter dan pasien, supir dan penumpang, pimpinan dan anak buah, rakyat dan pemerintah, dan seterusnya.
Selain itu kosakata al-Sakinah juga mengandung arti immanence of God (hadirnya pertolongan Tuhan dalam diri manusia), presence of God (kebesaran Tuhan hadir dalam diri manusia), devout (berserah diri), dan God inspired peace at mind (Tuhan memberikan ilham pada pikiran manusia). (Lihat Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, hal. 418). al-Sakinah dalam arti pertolongan Tuhan yang bersifat batiniah ini dalam sejarah pernah terjadi, paling kurang dalam empat peristiwa.
Pertama, dengan mengacu kepada surat al-Taubah (9) ayat 40, al-Sakinah diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW dan sahabatnya, Abu Bakar al-Shiddiq, ketika keduanya bersembunyi di Gua Tsur, karena menghindar dari kejaran orang kafir Mekkah yang akan membunuhnya. Para ahli sejarah, seperti Syaikh Mubarak Furi dalam buku al-Raheeq al-Makktum melukiskan keadaan tersebut amat berbahaya, karena musuh yang mengejar Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar al-Shiddiq itu sudah berada di mulut gua, sehingga kaki kudanya terlihat oleh Abu Bakar dari dalam gua itu. Jika tidak ada al-Sakinah pada saat itu, tentu jalan sejarah Islam akan berubah.
Kedua, dengan mengacu pada surat al-Taubah, (9) ayat 25-27, al-Sakinah diberikan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya pada perang Hunain yang terjadi abad ke-8 H. Karena merasa memiliki pasukan yang lebih banyak, ummat Islam pada saat itu merasa congkak, dan menganggap remeh pihak musuh, sehingga peperangan hampir saja dimenangkan pihak musuh. Namun, Nabi Muhammad SAW segera menyadarkan pengikutnya dari kesombongan tersebut, kemudian Allah memberikan al-sakinah, dan peperangan dimenangkan ummat Islam dengan hasil rampasan perang, tawanan-tawanan, dan ghanimah lainnya yang luar biasa banyaknya.
Ketiga, dengan mengacu kepada surat al-Fath (48) ayat 6, al-Sakinah diberikan Tuhan kepada ummat Islam pada saat perjanjian Hudaibiyah. Pada saat itu, Rasulullah SAW hampir saja ditinggalkan sendiri oleh para pengikutnya, karena Rasulullah SAW mau menandatangani perjanjian tersebut yang secara sepihak menguntungkan musyrikin Mekkah. Namun berkat nasihat Abu Bakar al-Shiddiq, para pengikut Rasulullah SAW tetap menghormati beliau, dan ternyata perjanjian itu merupakan strategi yang diterapkan Rasulullah SAW untuk mengurangi beban yang cukup berat, karena pada waktu yang bersamaan Rasulullah SAW juga harus menghadapi peperangan di Khaibar. Setelah perang Khaibar yang berakhir dengan kemenangan dari pihak Rasulullah SAW, maka orang musyrikin Mekkah menjadi ciut nyalinya, dan dengan mudah Rasulullah SAW, satu tahun kemudian dapat menguasai Mekkah tanpa perlawanan.
Keempat, dengan mengacu kepada surat al-Fath (48) ayat 4, al-Sakinah diberikan Tuhan kepada Rasulullah SAW dan ummatnya pada saat memasuki kota Mekkah dalam peristiwa Futuh Mekkah. Rasulullah SAW sangat khawatir akan terjadinya pertumpahan darah pada saat Futuh Mekkah tersebut, mengingat tujuan dakwah Rasulullah SAW bukan untuk menghancurkan mereka, atau menimbulkan pertumpahan darah namun untuk kedamaian dan kesejahteraan hidup. Maka dengan adanya al-sakinah, keadaan tersebut tidak terjadi.
Empat peristiwa yang demikian besar resikonya, baik dari segi jiwa, raga, harta benda, maupun kelanjutan masa depan Islam itu, ternyata dapat dilalui dengan selamat, berkat pertolongan Allah SWT, berupa al-Sakinah yang ditanamkan ke dalam jiwa Rasulullah SAW dan para pengikutnya.
Kehidupan manusia saat ini tidak terlepas dari berbagai problema, mulai dari problema keluarga, lingkungan, pekerjaan, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Dengan senantiasa memohon al-Sakinah dari Allah SWT, insya Allah berbagai problema tersebut dapat diatasi. Amin.