Masalah Pembelajaran Bahasa Arab untuk Passive Learner

Meskipun acara seminar sempat tertunda beberapa menit karena peserta masih belum mendatangi ruang diorama, acara berjalan dengan lancar hingga akhir sesi. Dimoderatori langsung oleh ustadzah Nailil Huda, seminar pleno di ruang diorama diawali dengan makalah Dr. Badr ibn Hilal dengan tema pembaruan metode pengajaran bahasa Arab dalam dunia Islam dan Arab. Dapat dikatakan bahwa tema tersebut sangat berkaitan dengan tema yang dibawakan Prof. Dr. I’timad Abdussadiq Afiifi pada sesi sebelumnya di ruang utama audit Prof. Dr. Harun Nasution dimana topik yang disampaikan terfokus pada kesulitan yang sering ditemui dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab. Beliau juga sependapat bahwa masalah utama kesulitan yang dialami oleh pelajar bahasa Arab adalah metode pengajaran dan pembelajaran yang masih terkesan sembarangan dan belum terancang rapi. Dalam perjalanannya beliau menjelaskan beberapa strategi pengajaran efektif dimana pelajar menjadi focus object dalam kegiatan pembelajaran sehingga pelajar dapat melakukan kegiatan belajar aktif dan tidak hanya menerima materi. Beliau juga sempat menjelaskan bagaimana usaha para cendikiawan awal abad hijriyah dalam menjaga bahasa Arab dan mengajarkannya pada orang-orang non-Arab yang baru masuk Islam. Ada tiga poin penting yang berhasil dilakukan untuk menjaga keotentikan bahasa Arab yaitu: mengumpulkan Syiir dan hikayat bahasa Arab serta menjaganya agar tidak musnah, menciptakan kaidah bahasa Arab yang lebih kita kenal dengan ilmu Nahwu, dan mengumpulkan kalimat yang gharib untuk kemudian diartikan dan dibuatkan kamus. Dalam hal ini Khalil ibn Ahmad lah cendikiawan muslim yang paling berjasa menyempurnakan pembuatan kamus dalam kitabnya “al-Ain”.

Makalah selanjutnya disampaikan oleh Dr. Muhbib Djunaedi, guru besar jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah dimana beliau fokus dalam strategi pengajaran bahasa Arab yang dalam pengembangannya tidak bisa lepas dari pembaruan pemikiran Islam. Dalam istilah lain dapat dikatakan bahwa pengembangan bahasa Arab tidak bisa terlepas dari pengembangan ilmu yang lain. Beliau menyampaikan paling tidak ada lima bidang keilmuan yang harus diperhatikan sebelum mengembangkan bahasa Arab yaitu ilmu lingusitik, edukasi, psikologi, sosial dan antropologi.

Makalah selanjutnya disampaikan oleh seorang mufti dari Oman. Mengusung tema pembaruan tafsir di zaman modern dengan merujuk pada kitab “anwaar at-tanziil” karangan Syeikh Ahmad Kholili beliau mengawali bahwa pembaruan tafsir tak melulu tentang makna baru dalam suatu ayat. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan metode baru dalam menyusun kitab tafsir semisal kitab tafsir tematik juga fokus konten tafsir merupakan pembaruan dalam bidang tafsir. Pembaruan dalam bidang tafsir sebagaimana dalam bidang lainnya tidak melulu mendapat respon positif dari cendikiawan lain. Beliau menjelaskan bahwa Syeikh Ahmad Kholili dalam kitabnya menentang penafsiran dengan filsafat.

Pemateri terakhir yaitu Devi Suci Wandariyah menutup sesi seminar sore ini dengan materi interferensi bahasa Madura ke dalam bahasa Arab di lingkungan Kademangan, Madura. Banyak sekali contoh yang dipaparkan seperti kata “maulud” yang setelah diserap dalam bahasa Madura berubah menjadi “molot”. Juga kata “musy ladzidz” yang berubah menjadi “mulzein”. (FN)