Penerimaan Kunjungan STAIN Sorong Papua Barat

Pada hari Senin, 30 Januari 2017 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong Papua Barat mengadakan kunjungan ke UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Kunjungan dipimpin langsung oleh Ketua STAIN Sorong Dr. Hamzah Hasan dan didampingi oleh para Wakil Ketua, sejumlah dosen dan karyawan. Rombongan yang berjumlah 42 orang ini disambut oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada. Setelah dari Rektorat, kunjungan dilanjutkan ke Fakultas Dirasat Islamiyah dan disambut oleh Dekan dan jajarannya. Menurut Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta Prof. Dr. Thib Raya, MA yang turut hadir di Fakultas Dirasat dan memberi sambutan atas nama Dekan FITK sekaligus dosen senior, lawatan ini termasuk lawatan yang paling besar Karena jarang sekali kunjungan kerjasama yang membawa rombongan dengan jumlah yang sangat besar.

Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah Dr. Hamka Hasan dalam sambutannya memperkenalkan sekilas tentang Fakultas Dirasat Islamiyah. Di antara hal-hal yang disampaikannya yaitu terkait kurikulum FDI yang berbasis Kurikulum al-Azhar Kairo Mesir, mayoritas dosen merupakan alumni Timur Tengah, beberapa pakar hukum agama Islam yang juga mengajar di FDI, beberapa keahlian dosen FDI seperti hadis dan ilmu hadis, serta memperkenalkan beberapa program unggulan FDI, seperti fellowship dan sandwich

Menurut Dekan FITK Prof. Dr. Thib Raya, kunjungan dengan membawa rombongan sebanyak 42 orang dari Papua menunjukkan tingkat kesejahteraan di Papua cukup baik dan hal ini jarang ada yang melakukannya. Terkait rencana STAIN Sorong untuk mendirikan Program S3 maupun pengelolaan S2 yang saat ini sudah berjalan, Prof. Thib Raya menyampaikan beberapa pesan dan masukan kepada Ketua STAIN Sorong dan rombongan: pertama UIN Jakarta akan memberikan support terkait program-program yang akan dilakukan oleh STAIN Sorong melalui pemikiran-pemikiran yang membangun. Kedua, dalam pendirian S3 STAIN Sorong wajib menyiapkan proses secara formal sehingga tidak menjadi boomerang di kemudian hari. Ketiga, STAIN Sorong perlu menyiapkan managemen yang baik terkait keuangan, pelayanan dan lainnya, sebab jika tidak dikelola dengan menagemen yang baik, biasanya akan hancur atau minimal tidak berkembang. Untuk memudahkan proses semua itu, perlu kerjasama dengan Perguruan Tinggi lain. Keempat, STAIN Sorong wajib menyediakan sumber dana yang cukup terutama untuk biaya dosen luar dan biaya sosialisasi dan promosi program S2 & S3. Kelima, seluruh civitas akademika memiliki visi yang sama, dengan itu tidak terjadi saling menjatuhkan dan saling menggorogoti secara internal.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Ketua STAIN Sorong Dr. Hamzah Hasan, hingga saat ini STAIN sudah memiliki 25 orang dosen tetap PNS dan 20 Dosen tetap non PNS yang tersebar di tujuh Program Studi dan satu Program Pasca sarjana. Setelah sambutan yang disampaikan Dekan FITK UIN Jakarta, Ketua STAIN Sorong Raja Ampat Dr. Hamzah Hasan menyampaikan hal-hal yang terkait dengan STAIN Sorong serta program yang saat ini tengah dirancang di antaranya: pertama bahwa STAIN Sorong 3 tahun ke depan berencana untuk membuka program S3, sedangkan S2 hingga saat ini sudah berjalan selama 3 tahun. STAIN sorong sendiri baru menjadi negeri 10 tahun yang lalu. Kedua, secara sosilogis, kondisi keagamaan Islam di sorong yaitu sekitar 40% muslim dan sisanya 60% non muslim. Namun demikian, berdasarkan hasil penelitian, perkembangan islam di Sorong Papua sangat pesat sehingga data terakhir (belum direlease) diperoleh data sekitar 3:1 dengan rincian muslim 3 dan non muslim 1. Ketiga, STAIN sorong berusaha membangun dan mengembangkan keislaman yang mengakomodir nilai-nilai lokal yang dikenal dengan istilah Islam Nusantara. STAIN Sorong sedang berusaha agar menjadi cluster corak keislaman di wilayah Timur Indonesia yang bercorakan nilai-nilai lokal. Keempat, STAIN sorong sedang merangcang wisata religi di Sorong dan salah satu daerah yang berkembang dan layak menjadi wilayah wisata religi di sorong adalah Raja Ampat.

Menurut Dr. Hamzah Hasan, STAIN Sorong berkunjung ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tujuan untuk belajar bagaimana pola manajemen, pola rekruitmen mahasiswa, dan pola pengelolaan SDM di UIN Jakarta. Masih minimnya SDM yang dimiliki STAIN sorong terutama belum adanya guru besar menjadi problem tersendiri dan memerlukan support dari UIN Jakarta yang dianggap telah mapan. UIN Jakarta sebagaimana disampaikan oleh Prof. Thib Raya Dekan FITK menyatakan bahwa UIN Jakarta siap memberikan bantuan kepada STAIN Sorong bilamana diperlukan. (CB)