FDI Hadirkan Dubes Mesir dan Prof. Din Syamsuddin dalam Kuliah Umum tentang Masa Depan Peradaban Islam
Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Kuliah Umum bertajuk “الدراسات الإسلامية ومستقبل الحضارة الإسلامية” atau “Studi Islam dan Masa Depan Peradaban Islam” pada Kamis (1/10/2026) di Aula FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa baru Program Sarjana (S1) dan Magister (S2) FDI serta dihadiri jajaran pimpinan dan dosen di lingkungan FDI.
Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam sambutannya, Dekan menyambut kehadiran para narasumber sekaligus menekankan pentingnya kuliah umum sebagai ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan studi Islam dan tantangan peradaban di masa depan.
Kuliah umum menghadirkan Duta Besar Republik Mesir untuk Indonesia, H.E. Yasser Elshemy, sebagai keynote speaker. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Mesir telah terjalin erat dan memiliki sejarah yang panjang. Ia juga menyoroti peran penting Universitas Al-Azhar dalam memperkuat hubungan kedua negara, khususnya melalui kontribusinya dalam pengembangan pendidikan Islam dan penyebaran nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat). Dubes juga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk melanjutkan estafet perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam yang wasathiyah serta menolak segala bentuk ekstremisme dan kekerasan.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga nilai-nilai Islam yang mengedepankan keseimbangan, perdamaian, dan kemaslahatan. Menurutnya, mahasiswa sebagai generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pemahaman Islam yang mencerahkan sekaligus menolak segala bentuk ekstremisme dan kekerasan.
Sementara itu, sesi utama kuliah umum menghadirkan Prof. Dr. Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang membahas hubungan antara studi Islam, ilmu-ilmu keislaman, dan masa depan peradaban Islam.
Prof. Din menjelaskan adanya perbedaan mendasar antara Islamic Sciences (ʿUlūm al-Islāmiyyah) dan Islamic Studies (Dirāsāt al-Islāmiyyah). Menurutnya, Islamic Sciences lebih berfokus pada aspek doktrinal dan ajaran Islam yang bersumber dari Kitābullāh al-Mastūr, yakni Al-Qur’an dan hadis. Bidang ini berkembang dalam berbagai disiplin keilmuan Islam yang secara khusus mengkaji ajaran dan sumber-sumber normatif Islam.
Adapun Islamic Studies, lanjut Prof. Din, memiliki cakupan yang lebih luas. Pendekatan ini banyak berkembang di lingkungan perguruan tinggi Barat dan mengkaji Islam serta masyarakat Muslim melalui berbagai perspektif, antara lain sejarah, sosiologi, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Dengan demikian, Islamic Studies tidak hanya melihat Islam sebagai seperangkat doktrin, tetapi juga sebagai fenomena yang hadir dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Prof. Din, kedua pendekatan tersebut tidak semestinya dipertentangkan. Ia menekankan pentingnya integrasi (tākāmul) antara Islamic Sciences dan Islamic Studies agar kajian Islam mampu menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.
Integrasi tersebut, jelasnya, dapat dilakukan dengan mempertemukan pembacaan terhadap Kitābullāh al-Mastūr, yakni wahyu yang tertuang dalam Al-Qur’an, dengan Kitābullāh al-Manẓūr, yaitu ayat-ayat Allah yang dapat dibaca melalui realitas alam dan kehidupan. Karena itu, pengembangan studi Islam di perguruan tinggi perlu membuka ruang yang lebih luas bagi dialog antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan ilmu alam.
Prof. Din juga mengaitkan persoalan tersebut dengan perjalanan peradaban Islam. Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah ketika umat Islam tidak lagi membaca dan mengkaji secara seimbang kedua sumber pengetahuan tersebut. Ketimpangan dalam membaca wahyu dan realitas, menurutnya, dapat menyebabkan umat kehilangan daya intelektual untuk merespons perkembangan zaman.
Dalam konteks masa depan peradaban Islam, Prof. Din kemudian mengangkat pengalaman Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat Madinah. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Madinah merupakan masyarakat yang plural dan terdiri atas berbagai kelompok, termasuk kaum Muhajirin, Ansar, dan komunitas Yahudi serta kelompok lainnya.
Keragaman tersebut kemudian dikelola melalui sebuah tatanan sosial-politik yang dikenal sebagai Piagam Madinah (Madinah Charter). Bagi Prof. Din, pengalaman Madinah menunjukkan bahwa pembangunan peradaban Islam memiliki dimensi sosial yang luas, termasuk kemampuan membangun kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Model masyarakat Madinah tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu rujukan penting dalam membayangkan peradaban masa depan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan realitas masyarakat yang plural.
Kuliah umum ini sekaligus menjadi ruang akademik bagi mahasiswa baru FDI untuk mengenal lebih jauh karakter keilmuan yang dikembangkan di lingkungan Fakultas Dirasat Islamiyah. Melalui pertemuan antara perspektif keislaman, realitas sosial, dan tantangan peradaban, mahasiswa diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas dalam memahami posisi studi Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat kontemporer.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan interaksi bersama peserta. Rekaman lengkap kuliah umum dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
